Sabtu, 04 Desember 2010

Empat Isteri

Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 Istri. Ia mencintai istri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenanngan, sebab ia yang tercantik diantara semua istrinya.

Pria ini juga mencitai istrinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang istri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain.

Begitu pula dengan istri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian. Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan istri ke-2 nya ini yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan istri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami. Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu sayang kepadanya.

Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, “saat ini aku punya 4 istri, namun saat aku meninggal aku akan sendiri. Betapa menyedihkan”

ISTRI KE-4 : NO WAY

Lalu pedagang itu memanggil semua istrinya dan bertanya pada istri ke-4 nya. “Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang aku akan mati, maukah kamu mendampingi dan menemaniku?”, ia terdiam… “Tentu saja tidak!” jawab istri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa2 lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati, seakan-akan ada pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.

ISTRI KE-3 : MENIKAH LAGI

Pedagang itu sedih lalu bertanya pada istri ke-3. “Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?”. Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini, aku akan menikah lagi jika kau mati”. Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.

ISTRI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR

Kemudian ia memanggil istri ke-2. “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dank au selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah kau mendampingiku?”. Jawab sang istri, “Maafkan aku, kali ini aku tak bias menolongmu, aku hanya bias mengantarmu hingga ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu”

ISTRI KE-1 : SETIA BERSAMA SUAMI

Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan setia bersamamu. Pria itu menoleh ke samping dan mendapati istri pertamanya di sana. Ia tampak begitu kurus, badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bias merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini istriku”

Tapi maaf, ini bukan sedang membahas tentang poligami, namun sesungguhnya kita punya 4 “istri” dalam hidup ini.

ISTRI KE-4 ADALAH TUBUH KITA

Coba kita ingat kembali, berapa banyak waktu dan biaya kita keluarkan untuk tubuh kita supaya ampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya, semuanya pergi begitu saja.

ISTRI KE-3, STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN

Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang memilikinya. Saat kita hidup kita punya jabatan sbg direktur, tapi setelah mati, maka jabatan itu akan diambil alih oleh orang lain, begitu pula dengan harta kekayaan, akan diperebutkan oleh ahli waris kita. Semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap ketika kita tiada

ISTRI KE-2 YAKNI KERABAT DAN TEMAN

Seberapa pun dekatnya hubungan kita dengan mereka, kita tidak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita

Dan sesungguhnya istri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.

Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amal lah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat amal, memberikan pertolongan kepada sesame yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannua.

Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar